Operasi Militer Seroja

Operasi Seroja, Operasi Militer Terbesar Negara Indonesia

Operasi Seroja merupakan operasi militer terbesar yang pernah dilakukan oleh Indonesia. Operasi ini terjadi di era Presiden Soeharto, dimpin oleh Kolonel Dading Kalbuadi, dan diikuti oleh Pasukan Kopasus yang dipimpin Jenderal Prabowo Subianto.

Tujuan

Tujuan dari dilaksanakannya operasi ini adalah kekhawatiran Indonesia dan Amerika akan pembentukan negara komunis di perbatasan Indonesia. Kekhawatiran tersebut tidak luput dari perang saudara antara Fretilin dan UDT (dimenangkan oleh Fretilin). Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente atau Fretilin sendiri adalah pergerakan pertahanan yang memperjuangkan kemerdekaan bagi Timor-Timur. Sedangkan Uni Demokratik Timor (União Democrática Timorense, UDT) adalah asosiasi politik pertama yang akan diumumkan setelah Revolusi Anyelir. Rasa takut akan kemerdekaan Timor-Timur juga dikhawatirkan akan mengundang gerakan separatis dari provinsi di Indonesia lainnya

Gerakan Invasi

Operasi Militer Seroja pertama kali dilaksanakan 9 hari setelah Fretelin mendeklarasikan kemerdekaan Timor-Timur pada tanggal 28 November 1975.

Invasi Pertama

Setelah peristiwa pengeboman angkatan laut Dili, 641 pasukan terjun payung Indonesia melompat ke Dili. Mereka terlibat pertempuran dengan kelompok bersenjata Falintil selama enam jam. Saat tengah hari, pasukan Indonesia berhasil merebut kota. 35 tentara Indonesia gugur, sementara 122 orang dari Falintil tewas dalam peristiwa tersebut.

Invasi Kedua

Pasukan Militer Indonesia melakukan invasi kedua pada tanggal 10 Desember. Invasi tersebut berbuah hasil dengan dikuasainya Kota Bacau yang merupakan kota terbesar kedua. Sedangkan pada tanggal 25 Desember yang bertepatan dengan hari raya Natal, pasukan militer Indonesia yang diperkirakan berjumlah 10.000 hingga 15.000 tentara mendarat di Liquisa dan Maubara.

Hingga 1976, Indonesia sudah mengirim sekitar 35.000 tentara di Timor-Timur. Sedangkan 10.000 lainnya berada di Timor-Barat Indonesia. 10.000 Tentara berhasil menduduki Dili dan 20.000 lainnya tersebar di seluruh Timor-Timur pada akhir tahun.

Pasukan Falintil yang kalah dalam jumlah pasukan melarikan diri ke gunung-gunung sembari terus menerus menerapkan perang secara gerilya.

Gerakan Solusi Akhir

Awal bulan pada tahun 1977, Indonesia memesan persenjataan dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Korsel, Taiwan dan Jerman Barat. Seiring dengan baru dan penambahan pasukan militer, Indonesia memulai gerakan yang dikenal sebagai solusi akhir.

Gerakan solusi akhir mempunyai dua taktik utama, yaitu pengepungan dan penghancuran yang menargetkan pengeboman desa-desa dan daerah pegunungan dengan menggunakan pesawat. Pengeboman tersebut menyebabkan kelaparan dan defoliasi menutup tanah. Dugaan penggunaan senjata kimia muncul setelah para penduduk desa melaporkan muculnya belatung di tanaman-tanaman setelah serangan bom dilakukan.

Gerakan solusi akhir pada Operasi Militer Seroja yang dilakukan Indonesia berhasil menumbangkan milisi utama Fretilin dan Nicolau Lobato yang merupakan Presiden sekaligus Komandan Militer Timor-Timur.

Invasi ini memakan korban tewas sebesar 2000 jiwa dari pihak Indonesia.

Post Author: Wafta Pedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *